Connect with us

Suara Difabel Mandiri (SDM)

Pentingnya Relasi Ketika Accessibility Tidak Terpenuhi

Gambar berisi sejumlah oranng

Artikel

Pentingnya Relasi Ketika Accessibility Tidak Terpenuhi

Keterbatasan informasi serta minimnya pengetahuan tentang accessibility tidak dapat dipungkiri masih banyak terjadi, oleh karena itu sesungguhnya ada beberapa solusi yang bisa dipilih ketimbang menuntut sana sini tanpa arti.

Oleh : Rizky Ramadhani

(Ketua Bidang Media dan Informasi Suara Difabel Mandiri (SDM)

              Terkadang dalam situasi tertentu yang dianggap kurang accessible bagi sebagian difabel, kebanyakkan orang akan lebih memilih jalur pintas yang dirasa mampu dan bisa menyelesaikan masalah. Misalnya saja ada bangunan baru yang tidak menyediakan jalur khusus bagi para tunanetra atau pengguna kursi roda, beberapa orang mungkin akan lebih memilih mengajukan tuntutan terkait kebijakan bangunan tersebut. Padahal apabila dipikir secara rasional, membangun suatu fasilitas khusus untuk difabel bukanlah hal yang mudah maupun murah.

              Keterbatasan informasi serta minimnya pengetahuan tentang accessibility tidak dapat dipungkiri masih banyak terjadi, oleh karena itu sesungguhnya ada beberapa solusi yang bisa dipilih ketimbang menuntut sana sini tanpa arti. Sebab jika difabel hanya mampu bersuara tanpa berupaya, maka suara itu hanya sia-sia. Maksudnya begini, ketika seseorang hanya mengeluhkan kondisi yang dialaminya tanpa ada tindakan upaya yang nyata dalam mengatasinya, pada akhirnya tuntutannya hanya akan berulang-ulang saja.

              Relasi adalah solusi  yang bisa dipakai dalam mengatasi keterbatasan accessibility, sebab jikalau difabel memiliki relasi kesulitan atau hambatan sedikit banyak bisa teratasi. Mungkin terlihat terlalu sepele masalah relasi ini, tapi percayalah faktor relasi maupun hubungan pertemanan yang baik akan banyak membantu difabel dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya semisal Si X hendak pergi ke ruangan B2.2, dikarenakan Si X merupakan kariawan tunanetra, Si X kesulitan mencari ruangan B2.2, namunn sebab Si X mempunyai banyak teman akhirnya Si X bisa dibantu oleh temannya menuju ruang tersebut.

              Begitu juga pada kasus-kasus lainnya, di manapun adanya difabel seyogjanya mulai mencari dan menambah relasi. Mungkin struktur gedung tidak selalu dibangun dengan standar accessibility bagi para difabel, tetapi dengan menambah relasi setidaknya itu bisa menjadi solusi untuk saat ini. Tak perlu dalam jumlah banyak, yang terpenting sama-sama memberi rasa nyaman serta mampu memahami dan mengerti kondisi yang dialami.

              Mungkin tidak mudah menjalin relasi bagi sebagian orang, namun apabila sudah terbiasa nanti akan berjalan dengan sendirinya. Sebab seperti yang sudah diketahui bersama, mayoritas difabel lebih sering berkumpul dengan sesama difabel itu sendiri, adapun kesempatan berkumpul dengan orang-orang yang non difabel. Pembahasan yang mereka bawa lagi-lagi masih menyangkut mengenai accessibel dan isu difabel, sehingga bukannya menciptakan lingkungan yang inklusif, justru sebagian difabel kerap kali membuat batasan yang lebih eksklusif.

              Tulisan ini bisa saja menyinggung banyak orang, yah tapi memang begitulah keadaannya. Terkadang disadari atau tidak disadari, difabel adalah manusia yang cukup egois jika menyangkut kepentingannya. Tulisan ini mungkin sulit dipahami dan dimengerti, namun memang tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk dipahami dan dimengerti, melainkan untuk direnungi seberapa pentingnya relasi dalam kehidupan ini.

Sumber Gambar : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.bola.com%2Fragam%2Fread%2F4554770%2F37-kata-kata-mutiara-persahabatan-yang-indah-mengena-di-hati&psig=AOvVaw1y-8nKNgCxPcdbmXLqGIyu&ust=1672833798661000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjRxqFwoTCPj059Otq_wCFQAAAAAdAAAAABAE

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top