Connect with us

Suara Difabel Mandiri (SDM)

Nasip Huruf Braille Di Era Teknologi

Artikel

Nasip Huruf Braille Di Era Teknologi

Oleh : Rizky Ramadhani

            Huruf braille adalah sistem huruf yang diciptakan oleh seseorang berkewarganegaraan Prancis yang bernama Louis Braille pada tahun 1824, bentuk huruf braille merupakan titik-titik timbul, yang di mana setiap titik memiliki kode dan bisa dibentuk menjadi sebuah huruf, sehingga huruf braille dapat mempunyai arti dan makna seperti tulisan pada umumnya. Selain itu konon kabarnya huruf braille juga sempat digunakan sebagai sandi khusus pada saat perang dunia sedang berlangsung, tentara Prancis memanfaatkannya sebagai tanda ketika bergerak di malam hari, pasalnya huruf braille yang berbentuk titik-titik timbul akan memudahkan untuk membacanya walaupun sedang di dalam kegelapan, karena pada dasarnya huruf braille cara membacanya hanyalah mengandalkan perabaan.

            Seiring berdasarkan kebutuhan dan keadaan, huruf braille akhirnya mengalami banyak pengembangan, penggunaannya telah menyumbang banyak pengetahuan bagi para disabilitas netra di dunia. Sebab dengan adanya huruf braille, para disabilitas netra bisa membaca buku tanpa harus merepotkan orang disekitar untuk membacakan, huruf braille juga dikembangkan dalam bberbagai macam kebutuhan seperti Al-Quran, simbbol matematika dan lain-lain. Ditambah lagi dengan adanya mesin prin braille, industri percetakan buku akan lebih mudah dalam memproses produksi buku-buku dalam bentuk braille.

            Sayangnya dengan pesatnya kemajuan teknologi saat ini banyak para disabilitas netra yang mulai meninggalkan huruf braille dan berbondong-bondong  memilih menggunakan gadget seperti handphone dan laptop, bahkan tak jarang kini mulai kerap ditemui disabilitas netra yang tidak mengenal sama sekali huruf braille. Karena telah banyaknya disabilitas netra yang mulai meninggalkan huruf braille, hawatirnya huruf ini akan menjadi benar-benar mati di masa depan nanti.

            Bukannya apa-apa, secanggih apapun piranti teknologi yang telah dimiliki saat ini, tetap saja ada fungsi huruf braille yang belum bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi. Sebut saja seperti kegiatan membaca Al-Quran, ketika disabilitas netra menggunakan handphone ataupun laptop, pada dasarnya mereka hanyalah mendengarkan Al-Quran dalam bentuk audio dan tidak benar-benar membaca, sehingga benar salahnya serta ejaan hurufnya tidak akan ketahuan. Hal tersebut tentu berbeda jika disabilitas netra benar-benar nenbaca Al-Quran braille, karena dengan merabanya langsung disabilitas netra akan mengetahui masing-masing huruf yang dibacanya. Kasus yang demikian juga bisa berlaku di simbol matematika, sebab meskipun teknologi telah berkembang kian pesat selama beberapa tahun belakangan, nyatanya masih teramat sulit untuk para disabilitas netra mengenali simbol-simbol matematika apabila hanya mengandalkan suara, maka huruf braille tetap menjadi piranti yang utama ketika disabilitas netra sedang mempelajari matematika. Begitu pula pada saat belajar Bahasa Inggris, para disabilitas netra tentu tidak akan mengerti ejaan suatu kata jika hanya terbiasa mendengarkan, karena antara tulisan dan bacaan di Bahasa Inggris tidak sama dengan ejaan dalam Bahasa Indonesia.

            Kesimpulan dari tulisan ini adalah, teknologi memang lebih praktis dan mempermudah banyak kegiatan para disabilitas netra, tapi huruf braille juga tidak selayaknya untuk ditinggalkan. Sebab keduanya saling berkesinambungan, disabilitas netra akan memerlukan keduanya di dalam kehidupan. Sehingga satu sama lain tidak bisa dihilangkan maupun digantikan, karena jika bijak dalam menggunakannya, maka dapat membantu disabilitas netra itu sendiri, baik untuk keperluan pembelajaran maupun membantu aktifitas sehari-hari.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top