Connect with us

Suara Difabel Mandiri (SDM)

Merdeka Dan Berdamai Dengan Diri Sendiri Sebagai Disabilitas

Artikel

Merdeka Dan Berdamai Dengan Diri Sendiri Sebagai Disabilitas

Oleh : Rizky Ramadhani

 

           Kata merdeka, selama inni bagi sebagian orang kerap diartikan sebagai sebuah bentuk kebebasan tanpa adanya penjajahan, padahal konsep merdeka tidak hanya bebas secara fisik saja, melainkan ada bentuk-bentuk merdeka secara pikiran maupun penalaran. Terlebih bagi mereka para disabilitas, yang selama ini masih menganggap bahwa dirinya selalu diperlakukan tidak adil oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu, bisa saja karena pikirannya yang belum merdeka menerima keadaannya membuat dirinya mudah berprasangka. Jika kita amati lebih sesama, mayoritas para disabilitas akan memiliki kecenderungan untuk tersinggung lebih besar ketimbang orang non disabilitas, walaupun tentu tidak semua disabilitas memiliki sifat seperti itu.

            Sesungguhnya ada dua hal yang bisa menyebabkan seorang disabilitas menjadi tidak bisa maju dan berkembang dalam hidupnya. Yang pertama adalah belum bisa merdeka atas pikirannya. Merdeka yang dimaksud di sini merupakan bentuk kebebasan pikirannya terhadap belenggu yang ada pada dirinya. Belenggu ini sangat bermacam-macam jenisnya, ada belenggu karena belum siap jika menjadi disabilitas, ada pula belenggu karena trauma serta masih banyak lagi. Contohnya: Seperti ada anak disabilitas netra yang takut ke luar rumah karena hawatir jika dirinya akan tersandung ketika jalan, atau disabilitas daksa takut berangkat ke kampus karena hawatir bahwa dirinya akan dibully oleh teman-temannya. Belenggu-belenggu seperti itulah yang seyogjanya sedikit-demi sedikit dihilangkan dari pikiran para disabilitas, sebab di dalam hidup ini kita tidak selalu menemui sebuah keindahan, terkadang diperlukan hal-hal pahit untuk merasakan hal yang manis.

            Berikutnya adalah berdamai dengan hati, seperti yang telah disinggung di atas bahwa para disabilitas memiliki kecenderungan untuk mudah merasa tersinggung. Tentu saja hal tersebut tidak terbentuk secara begitu saja dan alamiah, namun terdapat faktor-faktor yang menyebabkan seorang disabilitas menjadi mudah untuk tersinggung. Seperti trauma di masa lalu, kurang mendapatkan apresiasi dari lingkungan sekitar, kurang berintraksi dengan orang non disabilitas sehingga wawasannya minim, serta faktor-faktor lainnya. Jika disabilitas tidak bisa membebaskan dirinya dari perasaan yang demi kian, maka akan berdampak kurang baik bagi disabilitas dikala orang-orang terdekatnya sudah tiada. Karena biasanya hanya orang-orang terdekatlah yang bisa dan mampu memahami sifat para disabilitas, sedangkan tetangga ataupun orang yang baru dikenal belum tentu mampu memberikan toleransi terhadap sifatnya tersebut.

            Oleh karena itu, sangat penting halnya bagi para disabilitas bisa merdeka atas pikirannya serta berdamai dengan perasaannya. Sebab jika kedua hambatan tersebut sudah berhasil dilewati, kemungkinan untuk menjadi lebih maju dan berkembang di  tengah masyarakat umum sangat besar potensinya. Tidak hanya disabilitasnya saja yang musti berbenah, tapi lingkungan para disabilitas juga harus mulai memberikan support terhadap para disabilitas itu sendiri. Semisal: Apabila mempunyai anak disabilitas, usahakan jangan memanjakannya, namun ajarkanlah agar dia menjadi anak yang mandiri. Dengan begitu para disabilitas akan mampu berdiri di atas kemampuannya dan usahanya, sehingga tidak selalu para disabilitas menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top