Connect with us

Suara Difabel Mandiri (SDM)

Membuka Pintu Peluang: Keberagaman Cabang Olahraga dan Tantangan Keuangan dalam Perjalanan Atlet Disabilitas di Indonesia

Ilustrasi pengguna kursi roda, tunanetra membawa tongkat dan disabilitas lainnya

Artikel

Membuka Pintu Peluang: Keberagaman Cabang Olahraga dan Tantangan Keuangan dalam Perjalanan Atlet Disabilitas di Indonesia

Siapa yang belum mengenal ASEAN Para Games, kejuaraan bergengsi pada cabang olahraga khusus disabilitas. Ternyata tidak hanya itu, terdapat kejuaraan Peparporv, Peparnas, PON, dan masih banyak lagi kejuaraan yang mengkhususkan pada atlet disabilitas.

hampir seluruh anak disabilitas yang bersekolah di SLB pernah mengikuti salah satu kejuaraan cabang olahraga seperti O2SN. Nyatanya mereka lebih dilirik National Paralympic Commite Indonesia (NPCI). Asosiasi NPCI telah banyak menggait anak berbakat berbagai cabang olahraga.

Dikutip dari disbudpora.ciamiskab.go.id/ “NPC Adalah satu-satunya wadah keolahragaan penyandang cacat Indonesia yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan seluruh kegiatan olahraga prestasi penyandang cacat di Indonesia maupun di ajang internasional.”

“Penjaringan sering dilakukan di SLB karena disitu kan lebih banyak disabilitasnya ketimbang di sekolah inklusi yang cuma empat atau lima orang saja” ujar Adre, ketua NPC Gersik.

Dirinya juga menambahkan apabila ada atlet yang disabilitas dari KONI yang merupakan asosiasi atlet non-disabilitas, maka mereka akan segera melapor ke masing-masing cabang NPCi baik itu kabupaten/kota.

Pengelompokan ajang kejuaraan cuga kontras dibanding cabang olahraga umum. Jika biasanya hanya terbagi atas usia dan berat badan maka kejuaraan khusus disabilitas akan dikelompokan cabang olahraga berdasarkan jenis disabilitas kemudian dibagi kembali pada klasifikasi berupa kode khusus masing-masing disabilitas.

“Iya kalau difabel nanti dibagi kayak tuli, netra nanti beda. Terus nanti netra dibagi lagi jadi Kelas TF 11, TF 12, dan TF 13“ ujar Ayu, Atlet tolak peluru Denpasar.

Sayangnya, kurangnya sosialisasi dari NPCI menghambat anak berbakat untuk mendapatkan informasi jenis-jenis cabang lomba yang dapat diikuti. Padahal jika ditelisik lebih dalam, banyak perlombaan yang tidak biasa diikuti non-disabilitas seperti goalball, lari kursi roda, sepeda khusus netra dan lain-lain.

Peluang menjadi atlet disabilitas sangat terbuka lebar karena minimnya sumber daya manusia. Dari keseluruhan jumlah penduduk, hanya 8,5% penyandang disabilitas. Belum lagi dominasi dari lansia menyebabkan persaingan semakin tipis.

Banyak portal berita dan sosial media yang mempermasalahkan mengenai pendanaan minim bagi atletnya. NpcI tentu mengalami kendala yang sama. Dikatakan Andre Ketua NPC Gersik bahwa anggaran NPCI dari APBD sehingga tiap daerah memiliki porsi yang berbeda.

“Ada NPC yang sediain dana buat atlet, Tapi juga ada atlet yang latihan sendiri, bisa didanai keluarga itu lebih baik” ujarnya saat diwewancarai Jumat, (29/12/2023).

Pasalnya Dana yang disediakan terkadang tidak mencukupi menyebabkan beberapa cabang NPC tidak dapat memberdayakan atlet dengan maksimal. Biaya yang disediakan hanya mencukupi untuk persiapan atlet pada kejuaraan selanjutnya.

Andre juga menambahkan bahwa selama ini apabila atlet menang di kejuaraan tingkat nasional saja mereka dapat memperoleh hadiah uang yang cukup besar, lebih besar dibandingkan dengan bekerja paruh waktu yang sulit ada untuk disabilitas. Pemberdayaan yang maksimal diharapkan dapat meminimalisir terjadi perlawanan pada limit atau bahkan gagal bertanding karena menjadi calon tunggal di pertandingan. Hal ini dapat terjadi karena lawan mengundurkan diri atau tidak adanya disabilitas yang mendaftar.

Sumber: https://disbudpora.ciamiskab.go.id/

Penulis : Ivas Salsabilla

Editor : Rizky Ramadhani

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel

To Top